Pecahkan Saja Gelasnya

Tags

Beberapa tahun yang lalu kalimat tersebut sempat nge-hits. Karena kalimat dalam Film AADC (Ada Apa Dengan Cinta) yang sangat nge-hits di tanah air.

pecahkan saja gelasnya biar ramai

biar mengaduh sampai gaduh

Potongan puisi tersebut masih sering disebut, bertahun-tahun setelah film tersebut diputar. Artinya film tersebut sukses. Aku jadi nyesel dulu gak beli buku skenario film tersebut. Nyari-nyari di toko buku gak nemu.

Ehh.. kok jadi cerita film AADC..  tadinya mau cerita, teman di kantorku, rada rempong nyari-nyari kalimat yang pas dalam bahasa Indonesia yang pas, untuk pengganti kalimat : ln case of fire break glass for key.

ImageKalimat tersebut akan ditempel di kotak penyimpan kunci yang boleh digunakan dalam keadaan darurat.

“Ini kan buat satpam, jadi kalimatnya harus sederhana dan jelas..” begitu kata temanku.

“Dalam keadaan darurat, pecahkan kacanya untuk mengambil kunci,”  usulku.

“Tapi ini bahannya susah dipecahin..” jawabnya. Kotak kacanya terbuat dari semacam bahan Acrylic.

“Oh gitu…”

“Kalo dicongkel pake obeng, gampang..” jawabnya lagi.

“Jadi mestinya gimana?”

“Dalam keadaan darurat, congkel kacanya untuk mengambil kunci”  jawabnya sendiri.

“Mosok congkel.. kurang enak didengar..“

“Iya juga sih..” dia mulai galau.

“Kalo gini gimana : “Dalam keadaan darurat, bongkar kotak ini untuk mengambil kunci..” usulku lagi.

“Mosok bongkar.. masih gak kurang enak kedengarannya..” gantian dia yang gak setuju.

“Kalo bobol?”

“Ntar temboknya lagi yang dibobol.. bukan kotaknya..” belio masih belum setuju.

“Congkel, dongkel, cungkil?”

Belio geleng-geleng..

Hadeuh..

Ada yang bisa bantuin.. kalimat yang pas gimana? 🙂

***

gambar diculik dari sini : http://www.health-safety-products.co.uk/store/products/in-case-of-fire-break-glass-for-key-sign-photoluminescent-rigid-pvc/

Pasukan Nyamuk

Tags

mosquito

SEMALAM aku ingin sekali Qiyamul Lail (sholat tahajud), tapi ngantuk sekali. Akhirnya aku tertidur di tempat sholat, di ruang tengah. Cukup pulas aku tertidur. Kemarin siang agak penat karena menyelesaikan mukena pesanan teman.

Sedang kusyuk-kusyuknya tidur. Aku terganggu oleh suara denging di telinga. Hadeuhh.. Tutupin bantal. Tapi Teteuup… Nyamuk-nyamuk menyerangku habis-habisan. Parahh.. Di telinga, dagu, pipi, jidat. Semuanya. Aku merasakan bentol-bentol besar di wajahku. Padahal sudah menyalakan AC. Biasanya kalau nyalakan AC nyamuknya berkurang.. Akhirnya aku terbangun. Sekitar setengah 3 pagi. Sebentar lagi waktunya Sahur.

Alhamdulillah terbangun karena pasukan nyamuk gagah berani dan tak gentar kiriman Allah. Masih sempat buat Qiyamul Lail.

 

Kadang apa-apa yang menyebalkan di mata manusia, mungkin lebih baik di mata Allah.

#self reminder

 

*gambar ilustrasi diculik dari sini http://www.wintvworld.com/e-news/?cat=10&paged=6

[SewingAdventure] Sling Bag

hehe.. mau narsis aja nih, gpp ya 😀
Aku pernah cerita punya temen baru yang namanya mesin jahit. Berbekal keyakinan, biar ga kursus jahit, kalo mau nyoba pasti bisa! hehe..
Dengan membolak-balik tas seorang temen, akhirnya aku menconteknya.
bahan2nya :
pakai kain katun 2 warna
zipper
renda dan biku-biku.
sling bag 1
kalo sekiranya talinya kepanjangan dibuat pita aja jadi rada girly :p
Berikut ini penampakannya. Tadaa… 😀

 

sling bag 2
unyu kan? :))

Puasa itu..

Hari ini semua berkumpul di rumah. Ponakan-ponakan sudah menginap sejak kemarin sore.  Pagi-pagi, Eijaz, ponakanku, 5 1/2 tahun, menghampiriku.

“Bude..”

“Iya?”

“Uhm.. puasa itu kan tidak makan dan minum..”

“Iya…”

“Tapi kalo dijilat boleh nggak?”

Hihihi.. jadi inget jaman dulu waktu masih kecil, adikku menanyakan hal yang sama mamah.

“Kalau yang dijilatnya eskrim, kan nanti ada yang tertelan.. jadi ya nggak boleh Ei..” jawabku.

Eijaz manggut-manggut.  Entah apa yang ada dalam pikirannya. 🙂

***

Jalan-jalan ke Pulau Sempu

Tags

,

Beberapa teman saya berencana hiking ke Gunung Semeru. Waktu diajak, saya menolak. Saya nggak mau ikut, alasannya yaa.. tau diri aja sih, jarang olah raga. Meskipun mereka bilang cuma sampai Ranukumbolo. Saya tetap gak ikut.

Karena kami udah lama gak jalan bareng, dan gak seru kalau salah satu (saya) gak ikut. Tsah..

Lantas tercetuslah ide, mumpung lagi di Malang, sekalian aja ke Pulau Sempu.

“Ikut ke pulau sempu aja, gak usah ikut ke Semeru” begitu rayu mereka.

Baiklah. Cuti udah di-approved. Okesip. Dan sayapun packing.

Saya pergi sendiri Jakarta-Malang nyusul mereka yang baru balik dari Semeru. Hii.. pertama kali pergi sendiri naik kereta jarak jauh.. Bismillah..

Setelah 18 jam di kereta *pfff..*, saya dijemput teman-teman di Stasiun Malang Kota Baru, Senin pagi, 13 Mei 2013. Ya, kami memang memilih ke pulau Sempu di hari kerja, sebab kalau weekend katanya cari tempat buat bikin tenda aja susah.

Ada tempat kerabat untuk transit. Sahabat pacarnya teman saya, maksudnya gini : teman saya punya pacar. Pacarnya teman saya punya sahabat. Gitu lho.. *dibahas*

Kebetulan rumahnya gak jauh dari Stasiun & Alun-alun Kota. Cuma jalan kaki aja. Jadi saya bisa bersih-bersih dan istirahat. Keluarga yang hangat dan unik.  Suaminya orang Australia, meskipun dia arek Malang asli, anak-anaknya bule hehe.. biarpun begitu anak-anak itu ikut TPA. Subhanalloh.. Waktu ditanya, mamanya :

“What did you learn in TPA?”

“I don’t know, Mum .. some kind of Chinese writing..”

“Haha.. No.. No Chinese writing.. it’s Arabic writing..”

Hehe.. dikira tulisan Cina 😀

Sahabat pacarnya teman saya, baru pindah ke Indonesia. Semula mereka tinggal di Australia. Dan memutuskan untuk pindah ke Malang. Keluarga ini punya dua rumah. Rumahnya yang satunya baru akan dijadikan kantor 3 lantai. Mereka sudah menyiapkan kamar, kasur-kasur, dan kamar mandi dengan air panas. Kami bisa istirahat disana. Cakep… Alhamdulillah..

Rencana berubah, hari itu juga kami akan berangkat ke Pulau Sempu.

Setelah pegel 18 jam di kereta, saya manggut aja waktu teman-teman memutus hari ini berangkat. Supaya Rabu kita udah di Malang. Jadi cukup istirahat dan pulangnya bisa siang. Pesawat yang jam 2.

Sambil menunggu teman-teman dari Surabaya, kami putar-putar kota Malang dan mencoba Es Krim tempo doeloe di Toko Oen. Kemudian belanja perbekalan untuk kemping di pulau Sempu.

Menjelang Dzuhur, 2 orang teman dari Surabaya datang. Kami berlima pun berangkat dengan menyewa angkot 250 ribu rupiah untuk perjalanan dari Malang ke pantai Sendang Biru.  Perjalanan memakan waktu 2,5 jam. Oh my.. jalannya berkelok-kelok.. Saya mulai pusing.

Mungkin karena tadi saya habis keramas, jadi rambut saya masih agak basah, dan langsung saya tutup jilbab karena harus berangkat. Mungkin ini juga yang bikin pusing.  Dan saya ternyata PMS (Pre Menstruation Syndrome). Hadeuh.. lengkap sudah…

Teman saya memberi multivitamin h*m*t*n action yg tidak biasa saya minum.  Malah bikin saya mual.

Saya hampir saja membatalkan niat saya ikut ke Sempu dan balik ke Malang dengan angkot yang mengantar kami, tapi teman  saya merayu, “halah.. ntar sampai sana juga nggak apa-apa..”

Akhirnya sampai juga di pantai Sendang Biru. Pulau Sempu yang diliputi hutan Mangrove itu terlihat dekat sekali. Kedua teman saya, segera mengurus ijin dan membeli tiket untuk masuk ke dan camping di pulau Sempu.Image

Pantai Sendang Biru, yg hijau itu hutan mangrove pulau Sempu

Dari Pantai Sendang Biru ke Sempu kami menyewa perahu 100 ribu rupiah untuk menyeberang yang hanya memakan waktu 15 menit. Sewa guide 100 ribu rupiah perhari.

Kami tiba di pulau Sempu. Menurut Guide, perjalanan menuju Segoro Anakan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam.

Sempu Island, Google Map

Sempu Island, Google Map

Karena saya tepar jadi kami sering berhenti, akhirnya perjalanan memakan waktu 2 jam. Karena saya nggak kuat, ransel saya dibawain teman saya. Hadeuh maaf ya jadi merepotkan… Alhamdulillah teman-teman sabar dan support selalu. Duh.. teman-teman yang baik dan menyenangkan.. Katanya, kalau mau tau seseorang teman itu baik atau nggak, ajak nge-trip bareng. Mungkin ada benarnya juga.

Beberapa kali saya tersandung-sandung akar hutan mangrove karena hari mulai gelap. Temen saya bikinin tongkat dari batang pohon. Duh jadi terharu.

“Dijaga ya, jangan sampai hilang..” titahnya.

Tapi diperjalanan tongkat itu malah bikin ribet, jadi terpaksa saya buang. Maaf ya 😀

Waktu saya tanya sama guide-nya, “Ini masih lama gak ya, Pak?”

“Ya kira-kira 800 meter deh..”

“Kalau sampai sana berapa meter?”

“sekitar 2400-an..”

Hadeuh..

Baru juga selesai melewati beberapa tanjakan, eh.. ada tanjakan lagi dan banyak karang. Jadi supaya aman, kalau ke sana sebaiknya pakai sepatu trekking, bisa sewa kok, daripada kaki luka.

Saya mulai putus asa dan mau pingsan rasanya. Makanya rajin olah raga, makanya rajin olah raga..  saya ngomong sama diri sendiri dalam hati.

Lagi-lagi, Alhamdulillah, menurut guide-nya, saat kami ke sana, sudah 2 minggu tidak hujan di pulau Sempu, jadi medannya tidak terlalu berat. Tidak terlalu berat??! Tidak terlalu berat gimana maksudnya?! *tepok jidat*

trekking menuju laguna Segoro Anakan

trekking menuju Segoro Anakan, photo @bagus_minimax

Tiap kali istirahat teman kami yang Sarjana Kesehatan, kami memanggilnya pak Guru Olah Raga, habis secara penampilan badan gede, pintar olah raga ini itu, kek nya cocok jadi guru olah raga :D, dia terus-terusan memberi instruksi, kalau istirahat jangan duduk, kakinya jangan ditekuk.. kalau bisa berdiri saja.. bersandar saja.. soalnya nanti buang tenaga kalau bangkit lagi..

Trus, pesan pak Guru, kalau minum juga jangan banyak-banyak. Pada dasarnya saat kita kehausan yang haus itu mulut dan tenggorokan. Kalau kebanyakan minum nanti perut kembung malah nggak baik.

Jadi cara menipu mulut dan tenggorokan yang kehausan adalah.. hehe.. agak jorok  siy.. kumur-kumur hampir ditelan dulu, setelah itu baru ditelan. Duh gak sia-sia deh di tim ada pak guru olah raga ganteng, hehe..

Setelah melewati beberapa pohon tumbang, gua dengan stalagtit dan stalagmit..

Suara ombak mulai terdengar.. tapi perjuangan belum terakhir.. makin deket, makin curam.saya sempat gelantungan pegangan pohon melewati tebing yang hanya muat satu pijakan.

“Kuat gak nih pak pohonnya buat pegangan?”

“Kuat.. pohon-pohon yang disini kuat kok..” jawab si bapak guide santai.

Nyebelin.. Sementara pak Guide nya bisa lompat-lompat dengan cepat dan lincah, gue kayak orang jompo, takut-takut dan pelan-pelan melangkah..  🙂

Hari sudah mulai gelap. Kami mulai menginjak pasir putih. Beberapa tenda terlihat. Akhirnya kami sampai di laguna Segoro Anakan. Alhamdulillah..

Baju dekil, sepatu kotor, badan pada pegel..
“Sepertinya peluang bisnis nih.. “ ucap salah seorang teman saya.

“Kenapa?” tanya saya.

“Penyewaan helikopter hehe.. biar gak capek ke segoro anakan..”

Tapi.. segala kelelahan itu menguap begitu saja ketika melihat laguna nan cantik itu..

ImageSegoro Anakan, foto diambil keesokan paginya

Kami segera memasang tenda. Menyalakan lampu badai.  Menyiapkan makan malam. Yaitu… nasi bungkus hehe..

Malamnya kami masak mie instan lagi buat cemilan dengan kompor parafin.

Teman saya, mas fotografer, masih semangat eksperimen bermain-main dengan cahaya, membuat foto dengan tulisan yang ditulis dengan senter..

Sementara teman-teman dan bapak guide masih mengobrol, saya sudah sangat mengantuk..Agak horror-horor dikit obrolannya, mungkin biar seru.

Tapi buat saya, selama mahluk-mahluk astral tidak mengganggu, dan sayapun tidak menganggu mereka, no problemo.. Toh seluruh alam semesta yang punya Allah kan.. Jadi kenapa harus takut.

Yang saya takutkan malah binatang buas. Saya browsing-browsing di internet, kenapa pulau Sempu dijadikan Konservasi Alam, karena kekayaan flora dan faunanya. Beuh..

Pak guide-nya memberi tahu setiap pagi jam 8, dan benar saja, monyet-monyet turun dari pohon di hutan. Pesannya, jangan diberi makan, khawatir nanti teman-temannya datang. Apalagi kalau yang gede datang dan ngikutin kita, hiii…

Yang juga menyenangkan ketika malam, kami memandang langit hitam pekat yang ditaburi dengan gugusan bintang yang banyak sekali.. Dua kali saya melihat kilatan entah meteor atau bintang jatuh.

Sesuatu yang jarang dilihat di Jakarta.

Menurut pak Guide, sebetulnya ada 27 spot di pulau sempu yang bisa dikunjungi. Ada sumber air tawar juga sebetulnya. Di laguna Segoro Anakan airnya asin. Makanya yang merepotkan, kami harus bawah persedian air mineral yang cukup. Tapi kalau mau semua spot dikunjungi, setidaknya nge-camp 3 hari 2 malam-lah.  Kami (saya) hanya nge-camp 1 malam sudah lumayan tepar, hehe. Biarpun tepar, rasanya saya gak menyesal sudah datang kesana.

Dan yang perlu diingat, mari kita jaga sama-sama keaslian dan keragaman biota di pulau Sempu.

Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki. Jangan ambil apapun kecuali foto-foto.

Dikirimi nasi, eh, Diskriminasi

Tags

,

Suatu ketika, dalam perjalanan, terjadi perubahan rencana, tiket pulang kereta Malang-Jakarta yang sudah kami beli, mau kami kembalikan. Kami memutuskan untuk pulang dengan pesawat saja untuk menghemat waktu.

Lalu saya dan teman-teman perjalanan, menuju stasiun Malang Kota Baru untuk mengembalikan tiket. Dipotong 25% pastinya.

Lalu teman saya berinisiatif untuk mengurusnya.

Teman saya, perempuan,  dengan penampilan ehmm.. biasa aja sebetulnya. Tidak ada yang aneh dengan penampilannya. Cuma yaa.. agak sedikit kurang rapih. Sedikit. Kalau menurut kacamata saya nggak apa-apa kok. Tidak ada yang salah. Suara teman saya sedikit medhok dengan kolkolah ala Purwokerto. 🙂

Teman saya menghampiri petugas, saat itu pukul 11 siang.

“Pak, kalau mau mengembalikan tiket ke mana ya?” tanya teman saya.

“Oh, orangnya lagi istirahat nanti jam 1 siang balik lagi ya..”

Teman saya kembali menghampiri kami dengan tangan kosong. “Tunggu jam 1 katanya..”

Waduh, padahal kami harus berangkat ke Pantai Sendang Biru di Selatan Malang, yang harus di tempuh sekitar 2 ½ jam. Trekking di pulau Sempu menuju Segoro Anakan  sekitar 1 ½ jam. Dan kami belum makan siang, sholat… Hadeuh..

“Sini tiketnya, coba gw tanyain lagi..” sahut teman saya yang lainnya.

Lalu teman saya yang satu ini cantik, wangi, dengan pakaian casual yang tetap chic, enak dilihat-lah pokoknya. Dia menghampiri petugas yang sama.

“Selamat siang, Pak..”

“Siang..”

“Pak kalau saya mau kembalikan tiket  gimana ya?”

“Oh sebentar ya, mbak isi form ini dulu ya..” petugas tersebut menyerahkan form kosong. Sambil memberitahu apa-apa saja yang harus diisi.

“Sebentar ya mbak, saya cek petugasnya dulu..”

Serta merta petugas tadi berdiri, dan menuju loket tempat mengurus pengembalian tiket.

Setelah kami selesai mengisi form, petugas tsb bilang, “Langsung ke loket itu mbak.. langsung aja, lagi kosong loketnya..”

“Makasih Pak..”

See.. gak sampai setengah jam, urusan udah beres.

Mungkin karena teman saya yg pertama berlogat Jawa, dikira penduduk setempat, jadi gak papa kalau harus balik lagi jam 1. Sedangkan teman saya yang satunya lagi logatnya gak seperti penduduk setempat. Atau.. hm.. Dikirimi nasi, eh, diskriminasi?

Semoga saya selalu bisa berlaku adil #self reminder dan tidak diskriminatif.

Tapi kalau dikirimi nasi pakai lauknya sekalian, saya mau.. 🙂

nasi

Antara Gerbong Kereta dan Kaleng Kerupuk

Pernah mengisi kaleng/stoples dengan kerupuk? Saya pernah. Sering malah. Biasanya kaleng/stoples-nya diisi kerupuk sampai penuh penuh. Lalu kalengnya digoyang-goyangkan sedikit. Setelah digoyang2kan biasanya tempatnya jadi agak lowong. Sehingga bisa ditambahkan kerupuk lagi.

Setiap hari pulang pergi kerja saya naik kereta Commuter Line. Saya suka naik KRL, karena gak macet meskipun gak dapat tempat duduk. Hampir gak pernah dapat duduk pastinya. Kecuali kalau pulang kerjanya di atas jam 7 malam. Nggak pernah dapat duduk, karena saya naik KRLnya bukan dari Stasiun Bekasi, tapi dari Stasiun Jatinegara. Antara stasiun Bekasi sampai jatinegara penumpang terus bertambah. Alhasil ketika sampai stasuin Jatinegara sudah penuh. Saya tetap naik ke gerbong wanita. Yang penting bisa terangkut. Penumpang di gerbong yang saya naiki, cuma geser-geser sedikit. Alhamdulillah saya berhasil berdiri dengan susah payah dan minta maaf sana-sini karena takut gak sengaja nyenggol2. Pintu Commuter Line segera tertutup dan KRL mulai melaju.Seringkali sesaat setelah kereta melaju, tiba-tiba kereta ngerem mendadak.Dan ajaib! Tiba-tiba tempat saya berdiri dengan susah payah, mendadak jadi lowong! Karena penumpang-penumpang yang tadinya tidak mau bergeser, jadi terdorong dan bergeser. Diikuti suara ngomel2 pastinya  🙂 hihi.. saya jadi curiga, mungkin ini konspirasi masinisnya, supaya di stasiun berikutnya masih bisa bisa mengangkut penumpang lagi. Seperti ketika saya sedang mengisi kaleng kerupuk.Atau ini cuma pikiran parno saya aja barangkali..  🙂

Dino yang aneh

Sabtu kemarin aku iseng bikin boneka dari kain-kain perca. Sebenernya aku juga gak ngerti sih bikin pola boneka gimana caranya. Tapi berhubung ini bonekaku, jadi ya terserah aku-lah. Jadi aku bikin polanya gambar 2 dimensi, trus karena diisi dakron kan jadinya seolah-olah 3 dimensi :p

Mau bikin boneka dinosaurus sebetulnya, tapi ibuku bilang, “Lagi bikin boneka jerapah ya?”
“Ini dinosaurus, Mah.. bukan jerapah..”
“Oh, dinosaurus, kayak jerapah ya..”
“Dinosaurus..”

Kira-kira cara membuatnya begini :

Bahan :

2 macam kain perca untuk body bagian depan dan belakang
Kain velt warna untuk mata (aku pakai warna putih)
Kain velt warna lain untuk buntut, cula dan bentol-bentol dinonya mata (aku pakai warna ungu)
Benang wol untuk pupil mata dan mulut

Cara :

Buat Pola gambar 2 dimensi kira-kira seperti ini di kain perca untuk body-nya :

dino1

dino2

Untuk cula dan buntut, digunakan 2 lembar kain velt supaya lebih kaku, jahit keliling, lalu balik dan tempelkan di salah satu body (depan / belakang)

jahit-dino-zigzag
 
 
 
 
 
 
 
 

Setelah dijahitkan mata, bentol2 dsb ke body bagian depan, gabungkan dengan body bagian belakang, sisakan sedikit untuk memasukan dakron
Setelah selesai memasukan dakron, lalu jahit.Jadi deh, dino yang aneh 🙂

Kamu mau narsis di MP ya, Dino?

Baiklah…

dino-dan-mp
 
 
 
 
 
depan belakang 500